Niat Mandi Wajib Berdasarkan Sunnah

Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Berdasarkan Sunnah

Niat mandi wajib berikut tata caranya harus dipahami dengan baik oleh seluruh muslim. Bukan tanpa alasan, ibadah satu ini berguna untuk menghilangkan hadats besar. Berdasarkan pendapat para ulama yang merujuk pada hadits, ada beberapa kondisi yang mengharuskan seorang muslim untuk mandi wajib.

Diantaranya adalah pada saat seorang muslim mimpi basah, melakukan hubungan badan, dan setelah haid atau nifas bagi perempuan. Seseorang yang masih memiliki hadats besar tidak sah amal ibadahnya dilihat dari sudut pandang Islam.

Untuk memudahkan Anda dalam memahami kaidah mandi wajib ini hal pertama yang harus dipahami adalah rukun mandi wajib itu sendiri. Apa saja rukun-rukunnya tersebut? Tentu saja ada beberapa poin. Namun salah satunya adalah niat. Simak penjelasannya di bawah ini.

Niat Mandi Wajib dalam Islam Berdasarkan Sunnah

Jumhur ulama meyakini kalau niat adalah landasan utama setiap peribadatan dalam Islam. Hal ini merujuk pada hadits yang disampaikan oleh Sayyidina Umar Bin Khattab R.A dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim sebagai berikut :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Dengan merujuk pada hadits tersebut, wajib bagi setiap muslim untuk berniat sebelum melakukan ibadah apapun termasuk mandi wajib ini. Adapun untuk membuat ibadah Anda lebih afdhal, Anda bisa membaca niat mandi wajib seperti di bawah ini :

“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”

Artinya :

“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah ta’aala.”

Setelah Anda membaca lafadz niat tersebut, Anda bisa melanjutkan proses mandi wajib ini ke tahap rukun-rukunnya.

Rukun Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Sunnah

Baca Juga  Doa untuk Orang Sakit dan Adab Ketika Menjenguknya

Niat mandi wajib ini sendiri sebenarnya bagian dari rukun. Setelah Anda membaca niat, Anda bisa melanjutkan pada rukun-rukun yang berikutnya. Tentu saja rukun-rukun yang dilakukan ini harus sesuai dengan tutunan yang sudah diberikan oleh Rasulullah SAW.

Salah satu hadits yang merujuk pada rukun mandi wajib ini adalah hadits dari “Aisyah R.A yang menceritakan tentang sifat mandi wajib Rasulullah SAW.

ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

“Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi pada hakikatnya madi wajib ini sama seperti mandi biasa, yakni mengguyurkan air ke seluruh permukaan badan tanpa terkecuali. Selain itu ada juga hadits lain yang merujuk pada niat mandi wajib dan tata caranya ini. Hadits tersebut datang dari Jubair bin Muth’im yang mengatakan kalau Rasulullah SAW Bersabda:

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

Artinya :

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Jadi dengan membasahi seluruh permukaan tubuh saja, Anda sudah dianggap suci dari hadats besar. Meskipun begitu memang ada sunnah lain yang bisa Anda lakukan pada saat mandi junub. Diantaranya adalah madhmadhoh atau berkumur, ad dalk atau menggosok badan, dan istinsyaq atau memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya.

Tata Cara Mandi Wajib yang Sempurna

Agar lebih afdhal, tentunya ada tata cara mandi wajib yang sempurna dan sudah disepakati oleh jumhur ulama di seluruh dunia. Hadits yang menjadi landasan dari hal ini adalah hadits dari Aisyah R.A. Berikut ini haditsnya.

Baca Juga  Adab Makan dan Minum Berdasarkan Syariat Islam

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Dari hadits tersebut bisa kita rincikan kalau proses mandi wajib yang sempurna sesuai tuntunan sunnah adalah sebagai berikut :

  1. Mencuci tangan tiga kali sebelum mandi
  2. Membersihkan kotoran dan kemaluan dengan tangan kiri
  3. Mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan kotoran dan kemaluan
  4. Berwudhu seperti hendak shalat sebelum mandi
  5. Mengguyurkan air ke kepala sebanyak tiga kali sampai basah pangkal rambutnya
  6. Mencuci kepala bagian kanan dan dilanjutkan dengan kepala bagian kiri
  7. Menyela-nyela rambut sampai basah seluruh permukaan kulit kepala
  8. Mengguyurkan air di seluruh permukaan badan dari yang kanan kemudian dilanjutkan ke bagian kiri

Dalam proses terakhir, Anda tidak perlu mengulang-ulang. Cukup lakukan sekali saja karena yang terpenting adalah membasahi seluruh permukaan tubuh hingga tuntas. Yang penting lakukan niat mandi wajib dan rukun-rukunnya secara berurutan sesuai dengan tuntunan hadits yang sudah kami jelaskan di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *